Rabu, 20 Agustus 2014

Mutiara Itu Tertutup Debu

Assalamu'alaykum w.w. Selamat malam,
saya kembali mengeposkan sebuah karya saya yang mungkin bisa dibilang masih sangat dibawah rata-rata untuk ukuran sebuah karya tulis
Esai ini saya buat dalam rangka mengikuti sebuah perlombaan esai untuk kategori siswa SMA/sederajat yang diadakan oleh MIT (Media Informasi Teknik) BEMKMFT (Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Fakultas Teknik) UGM. Alhamdulillah, saya mendapatkan peringkat kedua. 
Disclaimer: Hak cipta oleh Palupi Hanggarani (Alumni SMA Negeri 1 Yogyakarta T.A 2014). Jika ingin mengutip, harap sertakan pada daftar pustaka.

Bulan Milik Bintang

Assalamu'alaykum w.w. selamat malam,
Pada kesempatan ini, saya ingin membagikan sebuah cerita yang saya buat sendiri pada waktu masih duduk di bangku SMA, untuk tahun tepatnya saya sudah lupa.
Sebenarnya cerita ini merupakan salah satu tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia. Pada waktu itu, kami ditugasi untuk mebuat sebuah cerita pendek, kemudian mengirimkannya pada sebuah majalah atau media cetak lainnya dengan harapan cerita tersebut akan dimuat. Tugas ini sangat melatih kepercayaan diri,
Saya rasa, sekian pengantar dari saya, selamat membaca. Kritik ataupun saran yang membangun sangat saya harapkan. Terimakasih.


Senin, 11 Agustus 2014

Dari Kampus Kepada Masyarakat oleh Para Mahasiswa Indonesia

Oleh Palupi Hanggarani (Mahasiswi Teknik Kimia 2014 UGM)


 Para pemuda dengan Sumpah Pemuda mereka telah menyatukan rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke dan dari Timor (ketika masih bergabung dengan Indonesia) sampai Talaud. R.A. Kartini dengan ‘emansipasi’-nya telah membawa kaum perempuan mempunyai derajat sosial yang sama dengan kaum laki-laki. Ki Hajar Dewantara dengan trilogi pendidikannya telah merubah pola pendidikan di Indonesia. Lalu, bagaimana dengan peran kita yang mengaku mahasiswa Indonesia? Jawabannya adalah dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi. 
 Tri Dharma Perguruan Tinggi muncul akibat dibuatnya Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003, lebih perincinya pada Pasal 20 ayat 3, yang menyatakan bahwa perguruan tinggi berkewajiban menyelenggarakan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Ketiga poin tersebut pada akhirnya dikenal sebagai Tri Dharma Perguruan Tinggi sampai saat ini. Tri Dharma Perguruan Tinggi tersebut merupakan suatu visi yang diharapkan mampu dicapai oleh mahasiswa Indonesia. Mengapa demikian? Karena mahasiswa itu sendiri sejatinya ada pusat dari perguruan tinggi. Peranan mahasiswa yang notabene dianggap sebagai golongan intelektual di Indonesia, tentunya memiliki pengaruh tersendiri dalam perkembangan negara.
 Pentingnya keberadaan mahasiswa yang mampu menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi, membuat mahasiswa dipaksa untuk selalu melakukan aktivitas berdasar Tri Dharma Perguruan Tinggi. Hal tersebut bisa dimulai dari linkungan terkecil mereka, yaitu kampus.
 Pendidikan. Pendidikan dan para pencari ilmu, dalam hal ini adalah mahasiswa, pada dasarnya adalah komponen yang saling melengkapi. Pendidikan bagi mahasiswa, yakni pendidikan tinggi, seyogyanya dipahami sebagai suatu kesatuan yang dinamis dan saling beriringan. Kemajuan sebuah sistem pendidikan tinggi dipengaruhi oleh kemajuan pola pikir para mahasiwa itu sendiri. Pada saat yang sama, kemajuan dari mahasiswa ditentukan oleh kualitas dari materi pendidikan yang mereka dapat. Pendidikan di lingkungan kampus pada umumnya tidak hanya terorientasi pada masalah akademik yang menyangkut tentang kajian ilmu khusus yang didalami oleh mahasiswa tersebut, melainkan juga mencakup pendidikan kerohanian, keahlian khusus, dan kemampuan diri. Pendidikan dalam lingkup non-formal yang meliputi interaksi antara sesama makhluk sosial, berupa pertemanan dan pergaulan, juga terlibat dalam hal ini. Pendidikan-pendidikan yang ada di lingkungan kampus ini diharapkan dapat menciptakan para mahasiswa tangguh yang berpengetahuan dan berkemampuan tinggi, baik pada dirinya maupun lingkungannya, dengan tetap berpegang teguh pada prinsip kerohanian sesuai dengan ajaran agamanya. 
 Penelitian. Secara sempit, penelitian dapat diartikan dengan proses penemuan suatu informasi baru yang kemudian akan disebarluaskan. Jika dikaitkan dengan pendidikan maka penelitian merupakan suatu tahapan setelah pendidikan itu sendiri. Mengapa bisa demikian? Penelitian merupakan salah satu cara untuk memanfaatkan atau menguji materi pendidikan yang telah diterima. Keingintahuan pada suatu fenomena yang dirasa tidak sesuai dengan tempatnya, dalam bahasa ilmiahnya dikenal dengan ‘permasalahan’, yang ditemukan dari kepekaan terhadap lingkungan dan adanya pengetahuan yang melatarbelakangi ketidaknyamanan pada permasalahan tersebut akan memicu adanya penelitian. Dari latar belakang dan permasalahan tersebut, seorang peneliti akan mengkaji dan mencari sebuah solusi melalui metode-metode tertentu agar menghasilkan solusi yang efektif dan efisien.
 Kehidupan kampus yang berada dalam ribuan permasalahan yang timbul di lingkungan masyarakat, diakui atau tidak telah menciptakan banyak solusi terhadap permasalahan yang ada melalui penelitian-penelitian yang dibuat oleh para mahasiswa. Pentingnya peran mahasiswa peneliti bagi permasalahan yang ada memang sangat tinggi. Oleh sebab itu, peningkatan dan pengembangan penelitian di kampus mutlak diperlukan.
 Pengabdian kepada masyarakat. Ketika sebuah pendidikan ada dalam penelitian yang berupa solusi dari sebuah permasalahan telah ditemukan maka pendidikan tersebut baru akan mempunyai sebuah nilai apabila ia telah diaplikasikan. Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi sekitarnya. Itulah esensi dari sebuah nilai kehidupan. Sebagai sebuah golongan yang dianggap intelektual, sudah sepantasnya mahasiswa, turut berperan serta memberikan manfaat bagi sekitarnya, yaitu masyarakat. Dalam konteks tulisan ini, salah satu tujuan dari dibuatnya sebuah penelitian adalah untuk disebarluaskan kepada masyarakat sekitar sebagai salah satu bentuk pengabdian kepada masyarakat. 
 Seperti itulah wujud dari Tri Dharma Perguruan Tinggi di dalam lingkup kampus yang dilakoni oleh para mahasiswa Indonesia. Berawal dari sebuah pendidikan, kemudian penelitian, hingga berakhir menjadi sebuah pengabdian kepada masyarakat. Seperti itulah peran para mahasiswa Indonesia pada batas waktu saat ini. Biarlah para pemuda berpuluh tahun lalu ada dengan Sumpah Pemuda mereka, biarlah seorang Raden Ajeng Kartini melawan sebuah kebudayaan pada masanya, dan biarlah seorang Ki Hajar Dewantoro apresiasi atas pemikirannya, karena para mahasiswa Indonesia saat ini telah ada untuk sebuah perubahan yang lebih baik. Dari kampus kepada masyarakat oleh para mahasiswa Indonesia.


Jumat, 08 Agustus 2014

Pentingnya PPSMB (Pelatihan Pembelajar Sukses Bagi Mahasiswa Baru)

Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarrakatuuh
Pada kesempatan ini, saya akan memaparkan beberapa pendapat saya mengenai pentingnya PPSMB Universitas Gadjah Mada.

Mengenal PPSMB

PPSMB (Pelatihan Pembelajaran Sukses Bagi Mahasiswa Baru) merupakan suatu kegiatan yang diadakan oleh Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Dalam bahasa sehari-hari kegiatan ini biasa disebut "ospek". PPSMB UGM ini dibagi menjadi tiga macam, yaitu:
  1. PPSMB universitas yang disebut PPSMB Palapa
  2. PPSMB fakultas (18 fakultas dan 1 sekolah)
  3. PPSMB jurusan atau program studi

Pentingnya PPSMB

 

  Sebagai seorang makhluk sosial, pada dasarnya manusia perlu melakukan interaksi dengan apa yang ada di lingkungannya, sebagaimana pepatah mengatakan "tak kenal maka tak sayang ta'aruf (berkenalan ; saling mengenal)". Interaksi manusia dengan lingkungannya dimulai dari suatu proses identifikasi dengan tujuan mengetahui informasi lebih dalam mengenai objek tertentu. 
 Mahasiswa baru, dalam konteks ini para Gadjah Mada Muda ( untuk selanjutnya disebut gamada), tentu membutuhkan suatu proses pengenalan terhadap lingkungan tempat tinggal barunya -berupa budaya, tata letak bangunan, materi pembelajaran, dan sebagainya-. Berdasarkan kebutuhan ini, PPSMB merupakan suatu ajang bagi para gamada untuk menjadi lebih 'dekat' dengan tempat tinggal barunya

 Seorang bayi yang baru lahir tentu tidak dapat melakukan proses adaptasi terhadap lingkungannya seorang diri, oleh karena itu, orang-orang yang telah terlebih dahulu 'hidup' dan melakukan adaptasi, memberikan pengarahan agar ia mudah beradaptasi.
 Dalam hal ini, peran dari para kakak tingkat (yang selanjutnya disebut 'kating') sangat dibutuhkan oleh para gamada. Komunikasi antara para gamada dan kating mereka mutlak diperlukan agar proses adaptasi yang dilakukan menjadi efektif dan efisien. Kegiatan PPSMB ini menjembatani silaturakhim antara gamada dan kating-nya
 Keluaga baru dan anggota keluarga baru. Gamada 2014 khususnya baru saja memulai perjalanan hidupnya. Keluarga baru mereka adalah Keluarga Mahasiswa UGM 2014. Antar anggota keluarga tentunya perlu saling mengenal, dan inilah salah satu poin pentingnya PPSMB, bahwa PPSMB ini merupakan ajang saling mengenal antara para mahasiwa baru -satu jurusan, satu fakultas, dan satu universitas-. Selain itu, untuk menciptakan sebuah keluarga yang mendekati sempurna, komunikasi dan hubungan yang kuat sangat diperlukan. Tugas-tugas yang diberikan pada PPSMB ini membuat gamada, mau tidak mau, melakukan komunikasi dan menciptakan sebuah satu sama lain. Itulah inti dari kegiatan ini, yaitu membentuk ikatan yang kuat antar gamada, sehingga menciptakan sebuah keluarga baru yang dirangkul dalam sebuah jati diri UGM.

 ~~~~~~~~~~

 Saya sendiri, sebagai seorang Gamada 2014, menyadari bahwa PPSMB ini merupakan kegiatan yang positif. Secara pribadi saya tidak berpikiran negatif mengenai PPSMB, hal itu disebabkan karena saya adalah seorang panitia MOS (Masa Orientasi Siswa) di sekolah terdahulu.  Tugas yang diberikan oleh panitia, pada dasarnya adalah kumpulan informasi mengenai kampus UGM, tidak hanya itu, para panitia juga mulai membentuk karakter peserta sebagai seorang mahasiswa, yang diharapkan mampu menjadi mahasiswa yang bermanfaat bagi sekelilingnya, meskipun secara tidak langsung. Para gamada diharapkan mampu mengenali potensi dari dirinya sendiri dan mencoba menentukan tujuan hidupnya sebagai seorang mahasiswa.
 Panitia PPSMB sendiri merupakan fasilitator bagi gamada muda, mereka memberikan pilihan kepada gamada muda untuk memilih jalan yang diinginkan melalui pengarahan pikiran secara tidak langsung. Gamada muda dihadapkan pada realita yang ada di kampus UGM, kemudian para panitia menunjukkan suatu gambaran mengenai idealita yang seharusnya ada.
 Jika ada yang bertanya mengapa saya lebih memilih untuk mengerjakan tugas yang diberikan dengan tulisan tangan saya sendiri, maka saya akan menjawab, "Menurut saya, tugas ini diberikan agar kami dapat memahami segala sesuatu tentang kampus UGM ini, dan saya percaya bahwa dengan membaca dan menuliskan kembali informasi yang saya peroleh, saya akan lebih mengingat dan memahami dengan baik mengenai informasi kampus saya. Bukankah menulis itu lebih baik daripada membaca 100 kali?". Saya sangat berharap agar saya mampu menjadi seorang mahasiswa UGM yang benar-benar mempunyai jiwa ke-UGM-an yang baik. Oleh karena itu, saya mohon bimbingan dari kakak-kakak semua.