Rabu, 20 Agustus 2014

Bulan Milik Bintang

Assalamu'alaykum w.w. selamat malam,
Pada kesempatan ini, saya ingin membagikan sebuah cerita yang saya buat sendiri pada waktu masih duduk di bangku SMA, untuk tahun tepatnya saya sudah lupa.
Sebenarnya cerita ini merupakan salah satu tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia. Pada waktu itu, kami ditugasi untuk mebuat sebuah cerita pendek, kemudian mengirimkannya pada sebuah majalah atau media cetak lainnya dengan harapan cerita tersebut akan dimuat. Tugas ini sangat melatih kepercayaan diri,
Saya rasa, sekian pengantar dari saya, selamat membaca. Kritik ataupun saran yang membangun sangat saya harapkan. Terimakasih.




Aku menaruh sebuah bunga teratai putih di atas nisan di depanku. Setelah itu, aku berdoa agar Bulan bahagia di alam sana. Tak terasa air mata menggelinang membasahi pipiku. Waktu berlalu begitu cepat. Aku masih ingat rangkaian kejadian lima tahun lalu.
***
13 Januari 2004. Aku menuju menuju kamar dengan kursi rodaku, tentu dengan sedikit bantuan dari Bulan, saudara kembarku. Meskipun kembar, tentu saja kami berbeda. Bulan lahir dengan kondisi tubuh yang sempurna. Dia tinggi, dia juga cantik dengan rambut lurus panjang dan mata bulat yang berwarna coklat. Sementara aku lahir dengan lumpuh pada kakiku. Aku juga tidak tinggi. Rambutku juga tidak lurus, tetapi bergelombang. Dunia memang tidak adil.
Setelah sampai di kamar, Bulan membantuku duduk di atas kasur. Kemudian kami berbincang-bincang sebentar.
“Bulan, kita kembar. Tapi mengapa aku berbeda denganmu? Aku lumpuh. Dan karena itu, aku tidak berguna dan bisanya hanya merepotkan orang lain.”, ungkapku pada Bulan.
“Ssst....Bintang, kamu tidak boleh bilang seperti itu. Tuhan tidak menciptakan manusia yang tidak berguna. Ini memang sudah takdir. Aku percaya kamu adalah anak yang istimewa.”
“Aku tahu ini takdir, aku tahu aku lumpuh. Tapi, mengapa aku tidak berguna?”,kataku pada Bulan sambil memukul-mukul kakiku.
“Bintang, kamu tahu? Kamu adalah anak yang berguna. Aku bersyukur punya saudara kembar sepertimu. Kamu anak baik. Dan kamu harus tahu satu hal. Aku akan selalu ada disampingmu.”
15 Juli 2004. Pagi itu, seisi rumahku sangat ribut dan panik. Ketika akan sarapan tiba-tiba saja Bulan pingsan. Ayah lalu menggendongnya ke kamarnya. Bunda segera mengambil minyak kayu putih dan mendekatkannya pada hidung Bulan. Bulan pun segera sadar.
20 Juli 2004. Bulan pingsan lagi. Dia segera dibawa ke rumah sakit oleh ayah. Setelah dokter memeriksa Bulan, dokter itu memanggil ayah untuk masuk ke ruangannya. Setelah beberapa menit di dalam, ayah keluar dengan wajah pasrah sambil membawa amplop putih di tangan kanannya. Ku rebut amplop itu, dan segera membaca isinya. Aku sangat terkejut ketika membacanya. Ternyata Bulan mengidap penyakit kanker otak yang sudah sangat parah dan tidak bisa disembuhkan lagi. Aku pun bergegas memutar kursi rodaku menuju ruangan tempat Bulan tidur. Disitu aku menangis tersedu-sedu. Tiba-tiba Bulan bangun dan bertanya kepadaku mengapa aku menangis. Aku tak menjawab pertanyaannya. Aku hanya terus menangis dan memeluk Bulan.
12 Agustus 2004. Bulan masih di rumah sakit dan aku menemaninya. Kini keadaannya semakin parah. Sekarang dia tidak bisa menggerakkan kedua kakinya. Bahkan, tangannya mulai susah bergerak. Aku duduk disampingnya. Tiba-tiba Bulan berkata,
“Bintang, sekarang dunia telah adil bukan? Kini aku juga lumpuh, bahkan sebentar lagi aku akan mati. Bintang sayang, aku harap kamu tetap bertahan dan jangan menyerah meskipun kamu lumpuh. Aku ingin melihatmu seperti teratai putih. Teratai putih itu bisa hidup dalam kondisi air bagaimanapun. Kamu mengerti?”
Aku mengangguk perlahan. Kemudian aku memeluk dan mencium keningnya.
13 Agustus 2004. Ketika aku sedang duduk di balkon rumah, tiba-tiba ayah menelponku. Ayah menyuruhku untuk segera pergi ke rumah sakit. Segera aku memanggil Bibi Nah dan memintanya mencarikan taksi untukku. Dalam perjalanan ke rumah sakit aku sangat tegang, aku gelisah, mengapa ayah menelponku tiba-tiba? Sampai di rumah sakit, aku segera memutar roda kursiku secepat yang aku bisa. Aku menuju kamar Bulan. Ketika ku buka pintu ruangannya. Tangisku pecah. Bulan sudah terbujur kaku dan dingin. Dia sudah ditutupi kain putih. Di sudut ruang, bunda menangis tiada henti. Siapa menyangka? Baru kemarin Bulan memintaku menjadi seperti bunga teratai, tapi mengapa Bulan menyerah begitu saja pada penyakitnya. Jika Bulan memintaku menjadi seperti teratai, mengapa Bulan sendiri tidak mau menjadi seperti teratai yang bertahan di kondisi apapun?
***
Aku mengelus batu nisan itu. Aku juga membacakan puisi yang aku buat untuknya.

Cinta dimatamu duduk manis di sampingku
Terus berkelanjutan memegang tangan dan berjalan melewati malam
Pegang aku erat-erat dan angkat aku untuk menyentuh langit
Mengajariku untuk mencintai dengan hati
Membantuku membuka pikiran
Aku bisa terbang
Untuk memberikan yang terbaik
Percayalah aku bisa terbang
Bulan  dilangit berharap satu kali
Memberiku cinta membuatku tersenyum
Sampai akhir waktu
Lihatlah aku terbang
Aku bangga terbang tinggi-tinggi
Aku bernyanyi di langit
 Memperlihatkan yang terbaik dariku
Bintang takkan lebih terang tanpa Bulan

Aku juga menceritakan buku baruku yang baru saja diterbitkan. Ya, berkat dorongan dari Bulan, kini aku telah menjadi seorang penulis yang cukup terkenal. Kelak, aku akan membuat cerita mengenai Bulan yang akan selalu menjadi bulanku, bulan milik Bintang.
***


BIODATA PENULIS

Nama                           : Palupi Hanggarani
Sekolah                       : SMAN 1 Yogyakarta
Alamat sekolah           : Jalan HOS Cokroaminoto 10 Yogyakarta
Alamat rumah             : Dondongan 01/19, Sendangmulyo, Minggir, Sleman, Yogyakarta 55562
Email                           : palupie1308leo@yahoo.co.id
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar