Pada kesempatan ini, saya ingin membagikan sebuah cerita yang saya buat sendiri pada waktu masih duduk di bangku SMA, untuk tahun tepatnya saya sudah lupa.
Sebenarnya cerita ini merupakan salah satu tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia. Pada waktu itu, kami ditugasi untuk mebuat sebuah cerita pendek, kemudian mengirimkannya pada sebuah majalah atau media cetak lainnya dengan harapan cerita tersebut akan dimuat. Tugas ini sangat melatih kepercayaan diri,
Saya rasa, sekian pengantar dari saya, selamat membaca. Kritik ataupun saran yang membangun sangat saya harapkan. Terimakasih.
Aku
menaruh sebuah bunga teratai putih di atas nisan di depanku. Setelah itu, aku
berdoa agar Bulan bahagia di alam sana. Tak terasa air mata menggelinang
membasahi pipiku. Waktu berlalu begitu cepat. Aku masih ingat rangkaian kejadian
lima tahun lalu.
***
13 Januari 2004.
Aku menuju menuju kamar dengan kursi rodaku, tentu dengan sedikit bantuan dari
Bulan, saudara kembarku. Meskipun kembar, tentu saja kami berbeda. Bulan lahir
dengan kondisi tubuh yang sempurna. Dia tinggi, dia juga cantik dengan rambut
lurus panjang dan mata bulat yang berwarna coklat. Sementara aku lahir dengan
lumpuh pada kakiku. Aku juga tidak tinggi. Rambutku juga tidak lurus, tetapi
bergelombang. Dunia memang tidak adil.
Setelah
sampai di kamar, Bulan membantuku duduk di atas kasur. Kemudian kami
berbincang-bincang sebentar.
“Bulan,
kita kembar. Tapi mengapa aku berbeda denganmu? Aku lumpuh. Dan karena itu, aku
tidak berguna dan bisanya hanya merepotkan orang lain.”, ungkapku pada Bulan.
“Ssst....Bintang,
kamu tidak boleh bilang seperti itu. Tuhan tidak menciptakan manusia yang tidak
berguna. Ini memang sudah takdir. Aku percaya kamu adalah anak yang istimewa.”
“Aku
tahu ini takdir, aku tahu aku lumpuh. Tapi, mengapa aku tidak berguna?”,kataku
pada Bulan sambil memukul-mukul kakiku.
“Bintang,
kamu tahu? Kamu adalah anak yang berguna. Aku bersyukur punya saudara kembar
sepertimu. Kamu anak baik. Dan kamu harus tahu satu hal. Aku akan selalu ada
disampingmu.”
15 Juli 2004.
Pagi itu, seisi rumahku sangat ribut dan panik. Ketika akan sarapan tiba-tiba
saja Bulan pingsan. Ayah lalu menggendongnya ke kamarnya. Bunda segera
mengambil minyak kayu putih dan mendekatkannya pada hidung Bulan. Bulan pun
segera sadar.
20 Juli 2004.
Bulan pingsan lagi. Dia segera dibawa ke rumah sakit oleh ayah. Setelah dokter
memeriksa Bulan, dokter itu memanggil ayah untuk masuk ke ruangannya. Setelah
beberapa menit di dalam, ayah keluar dengan wajah pasrah sambil membawa amplop
putih di tangan kanannya. Ku rebut amplop itu, dan segera membaca isinya. Aku
sangat terkejut ketika membacanya. Ternyata Bulan mengidap penyakit kanker otak
yang sudah sangat parah dan tidak bisa disembuhkan lagi. Aku pun bergegas
memutar kursi rodaku menuju ruangan tempat Bulan tidur. Disitu aku menangis
tersedu-sedu. Tiba-tiba Bulan bangun dan bertanya kepadaku mengapa aku
menangis. Aku tak menjawab pertanyaannya. Aku hanya terus menangis dan memeluk
Bulan.
12 Agustus 2004.
Bulan masih di rumah sakit dan aku menemaninya. Kini keadaannya semakin parah.
Sekarang dia tidak bisa menggerakkan kedua kakinya. Bahkan, tangannya mulai
susah bergerak. Aku duduk disampingnya. Tiba-tiba Bulan berkata,
“Bintang,
sekarang dunia telah adil bukan? Kini aku juga lumpuh, bahkan sebentar lagi aku
akan mati. Bintang sayang, aku harap kamu tetap bertahan dan jangan menyerah
meskipun kamu lumpuh. Aku ingin melihatmu seperti teratai putih. Teratai putih
itu bisa hidup dalam kondisi air bagaimanapun. Kamu mengerti?”
Aku
mengangguk perlahan. Kemudian aku memeluk dan mencium keningnya.
13 Agustus 2004.
Ketika aku sedang duduk di balkon rumah, tiba-tiba ayah menelponku. Ayah
menyuruhku untuk segera pergi ke rumah sakit. Segera aku memanggil Bibi Nah dan
memintanya mencarikan taksi untukku. Dalam perjalanan ke rumah sakit aku sangat
tegang, aku gelisah, mengapa ayah menelponku tiba-tiba? Sampai di rumah sakit,
aku segera memutar roda kursiku secepat yang aku bisa. Aku menuju kamar Bulan. Ketika
ku buka pintu ruangannya. Tangisku pecah. Bulan sudah terbujur kaku dan dingin.
Dia sudah ditutupi kain putih. Di sudut ruang, bunda menangis tiada henti.
Siapa menyangka? Baru kemarin Bulan memintaku menjadi seperti bunga teratai,
tapi mengapa Bulan menyerah begitu saja pada penyakitnya. Jika Bulan memintaku
menjadi seperti teratai, mengapa Bulan sendiri tidak mau menjadi seperti
teratai yang bertahan di kondisi apapun?
***
Aku
mengelus batu nisan itu. Aku juga membacakan puisi yang aku buat untuknya.
Cinta
dimatamu duduk manis di sampingku
Terus
berkelanjutan memegang tangan dan berjalan melewati malam
Pegang
aku erat-erat dan angkat aku untuk menyentuh langit
Mengajariku
untuk mencintai dengan hati
Membantuku
membuka pikiran
Aku
bisa terbang
Untuk
memberikan yang terbaik
Percayalah
aku bisa terbang
Bulan
dilangit berharap satu kali
Memberiku
cinta membuatku tersenyum
Sampai
akhir waktu
Lihatlah
aku terbang
Aku
bangga terbang tinggi-tinggi
Aku
bernyanyi di langit
Memperlihatkan yang terbaik dariku
Bintang
takkan lebih terang tanpa Bulan
Aku
juga menceritakan buku baruku yang baru saja diterbitkan. Ya, berkat dorongan
dari Bulan, kini aku telah menjadi seorang penulis yang cukup terkenal. Kelak,
aku akan membuat cerita mengenai Bulan yang akan selalu menjadi bulanku, bulan
milik Bintang.
***
BIODATA
PENULIS
Nama :
Palupi Hanggarani
Sekolah :
SMAN 1 Yogyakarta
Alamat sekolah :
Jalan HOS Cokroaminoto 10 Yogyakarta
Alamat rumah :
Dondongan 01/19, Sendangmulyo, Minggir, Sleman, Yogyakarta 55562
Email :
palupie1308leo@yahoo.co.id

Tidak ada komentar:
Posting Komentar