Senin, 11 Agustus 2014

Dari Kampus Kepada Masyarakat oleh Para Mahasiswa Indonesia

Oleh Palupi Hanggarani (Mahasiswi Teknik Kimia 2014 UGM)


 Para pemuda dengan Sumpah Pemuda mereka telah menyatukan rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke dan dari Timor (ketika masih bergabung dengan Indonesia) sampai Talaud. R.A. Kartini dengan ‘emansipasi’-nya telah membawa kaum perempuan mempunyai derajat sosial yang sama dengan kaum laki-laki. Ki Hajar Dewantara dengan trilogi pendidikannya telah merubah pola pendidikan di Indonesia. Lalu, bagaimana dengan peran kita yang mengaku mahasiswa Indonesia? Jawabannya adalah dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi. 
 Tri Dharma Perguruan Tinggi muncul akibat dibuatnya Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003, lebih perincinya pada Pasal 20 ayat 3, yang menyatakan bahwa perguruan tinggi berkewajiban menyelenggarakan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Ketiga poin tersebut pada akhirnya dikenal sebagai Tri Dharma Perguruan Tinggi sampai saat ini. Tri Dharma Perguruan Tinggi tersebut merupakan suatu visi yang diharapkan mampu dicapai oleh mahasiswa Indonesia. Mengapa demikian? Karena mahasiswa itu sendiri sejatinya ada pusat dari perguruan tinggi. Peranan mahasiswa yang notabene dianggap sebagai golongan intelektual di Indonesia, tentunya memiliki pengaruh tersendiri dalam perkembangan negara.
 Pentingnya keberadaan mahasiswa yang mampu menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi, membuat mahasiswa dipaksa untuk selalu melakukan aktivitas berdasar Tri Dharma Perguruan Tinggi. Hal tersebut bisa dimulai dari linkungan terkecil mereka, yaitu kampus.
 Pendidikan. Pendidikan dan para pencari ilmu, dalam hal ini adalah mahasiswa, pada dasarnya adalah komponen yang saling melengkapi. Pendidikan bagi mahasiswa, yakni pendidikan tinggi, seyogyanya dipahami sebagai suatu kesatuan yang dinamis dan saling beriringan. Kemajuan sebuah sistem pendidikan tinggi dipengaruhi oleh kemajuan pola pikir para mahasiwa itu sendiri. Pada saat yang sama, kemajuan dari mahasiswa ditentukan oleh kualitas dari materi pendidikan yang mereka dapat. Pendidikan di lingkungan kampus pada umumnya tidak hanya terorientasi pada masalah akademik yang menyangkut tentang kajian ilmu khusus yang didalami oleh mahasiswa tersebut, melainkan juga mencakup pendidikan kerohanian, keahlian khusus, dan kemampuan diri. Pendidikan dalam lingkup non-formal yang meliputi interaksi antara sesama makhluk sosial, berupa pertemanan dan pergaulan, juga terlibat dalam hal ini. Pendidikan-pendidikan yang ada di lingkungan kampus ini diharapkan dapat menciptakan para mahasiswa tangguh yang berpengetahuan dan berkemampuan tinggi, baik pada dirinya maupun lingkungannya, dengan tetap berpegang teguh pada prinsip kerohanian sesuai dengan ajaran agamanya. 
 Penelitian. Secara sempit, penelitian dapat diartikan dengan proses penemuan suatu informasi baru yang kemudian akan disebarluaskan. Jika dikaitkan dengan pendidikan maka penelitian merupakan suatu tahapan setelah pendidikan itu sendiri. Mengapa bisa demikian? Penelitian merupakan salah satu cara untuk memanfaatkan atau menguji materi pendidikan yang telah diterima. Keingintahuan pada suatu fenomena yang dirasa tidak sesuai dengan tempatnya, dalam bahasa ilmiahnya dikenal dengan ‘permasalahan’, yang ditemukan dari kepekaan terhadap lingkungan dan adanya pengetahuan yang melatarbelakangi ketidaknyamanan pada permasalahan tersebut akan memicu adanya penelitian. Dari latar belakang dan permasalahan tersebut, seorang peneliti akan mengkaji dan mencari sebuah solusi melalui metode-metode tertentu agar menghasilkan solusi yang efektif dan efisien.
 Kehidupan kampus yang berada dalam ribuan permasalahan yang timbul di lingkungan masyarakat, diakui atau tidak telah menciptakan banyak solusi terhadap permasalahan yang ada melalui penelitian-penelitian yang dibuat oleh para mahasiswa. Pentingnya peran mahasiswa peneliti bagi permasalahan yang ada memang sangat tinggi. Oleh sebab itu, peningkatan dan pengembangan penelitian di kampus mutlak diperlukan.
 Pengabdian kepada masyarakat. Ketika sebuah pendidikan ada dalam penelitian yang berupa solusi dari sebuah permasalahan telah ditemukan maka pendidikan tersebut baru akan mempunyai sebuah nilai apabila ia telah diaplikasikan. Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi sekitarnya. Itulah esensi dari sebuah nilai kehidupan. Sebagai sebuah golongan yang dianggap intelektual, sudah sepantasnya mahasiswa, turut berperan serta memberikan manfaat bagi sekitarnya, yaitu masyarakat. Dalam konteks tulisan ini, salah satu tujuan dari dibuatnya sebuah penelitian adalah untuk disebarluaskan kepada masyarakat sekitar sebagai salah satu bentuk pengabdian kepada masyarakat. 
 Seperti itulah wujud dari Tri Dharma Perguruan Tinggi di dalam lingkup kampus yang dilakoni oleh para mahasiswa Indonesia. Berawal dari sebuah pendidikan, kemudian penelitian, hingga berakhir menjadi sebuah pengabdian kepada masyarakat. Seperti itulah peran para mahasiswa Indonesia pada batas waktu saat ini. Biarlah para pemuda berpuluh tahun lalu ada dengan Sumpah Pemuda mereka, biarlah seorang Raden Ajeng Kartini melawan sebuah kebudayaan pada masanya, dan biarlah seorang Ki Hajar Dewantoro apresiasi atas pemikirannya, karena para mahasiswa Indonesia saat ini telah ada untuk sebuah perubahan yang lebih baik. Dari kampus kepada masyarakat oleh para mahasiswa Indonesia.


Tulisan diatas merupakan esai yang saya tulis untuk memenuhi tugas PPSMB PRISMA, khusus untuk fakultas teknik. Teknik Jaya!!!

Terimakasih kepada para pembaca yang telah berkenan membaca tulisan saya. Kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan.

DISCLAIMER: Jika ada yang ingin mengutip, mohon sertakan nama saya dan/atau tuliskan alamat blog ini pada daftar pustaka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar